Menoleh Kejayaan Islam Masa Lalu untuk Menatap Masa Depan
Oleh : Arif Zaenal Mustopa
Kepala Madrasah Aliyah Al Ikhlash Cicalengka
Tulisan ini akan mencoba membahas puncak kemajuan Islam masa lalu sebagai pusat peradaban dunia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam yang mampu mengembangkan konsep filsafat empiris dialogis yang digulirkan filsuf Yunani terkenal seperti Socrates, Plato dan Aristoteles menjadi berfikir empiris experimental theistik. Hingga pada saat ini bertranformasi menjadi humanistik dengan dimotori oleh dunia barat dan mudah-mudahan peradaban Islam dapat bersinergi kembali dengan ilmu pengetahuan dengan pandangan theohumanistik.
Namun demikian, penelaahan kemajuan Islam masa lalu atau sekitar 8 abad yang lalu ini bukan sebagai euforia masa lalu dan semu atau mungkin mengelu-elukan mimpi indah, namun lebih untuk memberi semangat untuk kemajuan Islam masa depan sebagai umat yang bergelar khoiru ummah dan rahmatan lil alamien. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menginspirasi kita semua menuju ke arah perubahan dari masa stagnasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sejak runtuhnya peradaban keemasan Islam Andalusia dan Baghdad sehingga dapat berkiprah kembali mengejar ketertinggalan.
Masa keemasan Islam terjadi pada abad 8 M sampai dengan 13 M, ketika kerajaan Islam Andalusia menjadi pusat peradaban dunia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Hal ini merupakan hasil dari peletakan dasar-dasar Islam pada masa Rosululah yang terlahir pada 12 Rabiul Awal 571 Masehi atau sekitar akhir abad ke-5 M.
Masa peradaban awal Islam berawal sekitar abad 6 M yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW yang lebih dikenal dengan masa Islam Kaffah. Pada masa ini Islam dibangun di tengah-tengah bangsa Jahiliyah Arab. Ketika itu Islam merupakan kaum minoritas yang serba kekurangan baik dalam harta maupun pengetahuan. Namun demikian, sebagai agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan (dibuktikan dengan ayat pertama yang diturunkan berbunyi iqra, yang artinya bacalah), Islam dapat berkembang dan menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia.
Perjalanan perkembangan Islam singkatnya berangkat mulai dari masa kepemimpinan Rosulullah, kemudian para khulafaurrosyidin (sahabat Rosul) dilanjutkan dengan dinasti kerajaan Islam. Rosulullah sebagai peletak dasar pondasi Islam telah berhasil menjadikan umat Islam pada masa keemasannya. Yaitu di Andalusia oleh dinasti Umayyah dan di Bagdad olah dinasti Abasyiyah.
Masa kurang lebih 2 abad sejak Rosulullah dilahirkan merupakan kawah candra di muka bagi persiapan kemajuan Islam. Islam yang terlahir dengan pengikut yang bisa dikatakan belum berpengetahun tinggi, namun tekad dan kecintaan terhadap ilmu dengan dibimbing Rosullah mampu meniti langkah yang menuju kemajuan. Dalam riwayat diceritakan bahwa, tahanan perang akan dibebaskan jika mengajarkan baca tulis kepada orang Islam. Hal ini dilakukan Rosul karena beliau memandang bahwa kompetensi literasi merupakan dasar untuk menguasai ilmu pengetahuan.
Pada masa yang sama Eropa masih berada dalam situasi dark age atau masa kegelapan, meskipun kita ketahui bersama bahwa jauh sebelum nabi Muhammad lahir yaitu pada abad 5-4 SM telah lahir filsuf Yunani yang terkenal yaitu Socrates dengan konsep terkenal nalar rasional. Dilanjutkan dengan Plato pada abad 4 SM dan Aristoteles sebagai peletak dasar filsafat empiris dialogis. Jadi intinya dalam masa dark age Eropa sebetulnya telah dimulai perkembangan ilmu pengetahuan namun tetap harus sejalan dengan pemegang otoritas. Artinya ketika ilmu pengetahuan berjalan bertentangan dengan pemegang otoritas maka harus dipangkas, hal ini sama kasusnya dengan pandangan Socrates yang menjadi agnostik (tidak mengaku dewa) maka dia dipaksa untuk minum racun. Sehingga ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan pesat dan terhambat oleh kepentingan penguasa. Hal ini karena ketika imaginasi pengetahuan yang meronta-ronta bergulir dalam fikiran para filsuf maka akan mati dengan sendirinya.
Eropa yang tengah mengalami masa kegelapan hingga abad 13 M mampu bangun dari keterpurukan dan tampil dengan konsep renessains pada abad 15 sehingga mampu menjadi pusat ilmu pengetahuan sampai dengan sekarang. Sebaliknya Islam yang telah dibangun oleh nabi kita mulai abad 6 M dan mencapai puncak masa keemasan pada abad 8 M sampai dengan abad 13 M yang ditandai dengan berkembangnya berbagai ilmu pengetahuan dengan sudut pandang empiris experimental sehingga mampu menciptakan teknologi penyokong kehidupan manusia, padam dan mati ditelan zaman.
Sebagai muslim yang memiliki pengetahuan yang mendasar tentang posisi ilmu pengetahuan dalam Islam, sejatinya kita harus memiliki sikap dan tekad untuk menjadikan Islam sebagai agama rohmatan lil alamin dengan dasar ilmu pengetahuan. Abad 13 M sampai dengan abad 20 M ini merupakan masa stagnasi dimana umat Islam belum bangun dari mimpi indahnya berfantasi dengan euforia masa keemasan 8 abad yang lalu.
Tentunya kita dapat berbangga bahwa para pemikir Islam abad 8 M telah banyak meletakan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Namun hal ini harus kita sikapi dengan bijak jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran sekulerisme yang memandang Islam atau agama candu bagi ilmu pengetahuan. Islam adalah way of life bukan way of religion, jadi cara kita memandang kehidupan dan berkehidupan harus sejalan dengan konsep Islam. Para ilmuwan Andalusia pun menjadikan ilmu pengetahuan bukan sebagai candu dalam beragama tetapi dalam rangka mendekatkan diri kepada sang khalik. Sampai pada akhirnya mereka mampu mencapai masa kejayaan dalam peradaban dunia pada saat itu. Hal ini dibuktikan dengan dikembangkannya teknologi kompas sebagai penunjuk arah, sehingga memudahkan orang untuk meyakini arah kiblat dalam sholat.
Penguasaan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi bagi umat Islam adalah sebuah niscaya dewasa ini. Kita harus mampu menyandingkan dzikir (dibaca: agama) dan fikir (dibaca: iptek) keluar dari pemikiran jumud bahwa Islam adalah agama marginal, dimulai dengan penegasan konsep Islam way of life tadi. Tanpa itu semua kita akan terus berada dalam masa stagnasi, kejumudan dan bahkan terus menerus jauh tertinggal di banding umat lain.
Untuk itu penerapan cara pandang filsafat theohumanistik bisa dijadikan alternatif menuju ke arah kemajuan Islam. Kita jadikan Islam sebagai agama ilmu pengetahuan, kita hancurkan sekat antara ilmu agama dan ilmu umum karena pada hakikatnya semua ilmu berasal dari Allah dan kita pergunakan dalam rangka meraih hudan dan maghfirah-Nya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan “dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dan dengan agama hidup jadi terarah”. Tampaknya pepatah ini dapat kita sarikan bahwa mari kita raih ilmu pengetahuan dalam bidang apapun yang kita jalani, sebagai penelitikah, sebagai dosenkah atau apapun profesi dan disiplin keilmuan kita, namun tetap dalam bimbingan dan koridor agama sebagai pengarah menuju jalan Allah.
Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, bukti otentiknya adalah ayat pertama yang diturunkan bukan perintah untuk ibadah atau tauhid berketuhanan tetapi perintah membaca. Hal ini telah diterapkan oleh para pemikir Islam dari sejak zaman Rosulullah sehingga mencapai puncaknya pada masa dinasti Umayyah di Andalusia dan dinasti Abasiyah di Bagdad. Umat Islam hendaknya tidak terjebak dalam euforia masa lalu, tetapi menjadikannya sebagai kontribusi yang positif untuk memajukan Islam di masa kini. Untuk itu marilah kita sambut dan persiapkan era kemajuan Islam abad 20 M dengan menyatukan visi dan misi menuju ‘Izzul Islam wal muslimuun.

mantap